Welcome Guest | Daftar | Login

Teladan Dari Toro: Kembali ke Pertanian Organik

Reinhard Nainggolan
Sumber: KOMPAS, 3 Mei 2007

"Sebenarnya alam sudah menyediakan segalanya bagi manusia, tapi kita justru merusaknya. Tidak usah heran kalau bencana pun terjadi di mana-mana."

Kalimat itu dilontarkan Rukmini Paata Toheke (36)—satu dari 16 anggota Lembaga Adat Toro—saat makan malam di rumahnya, April lalu. Mendengarnya bercerita sama nikmatnya dengan menyantap nasi dan ikan mas goreng yang disajikan di atas meja.

Malam itu suhu udara di Ngata (Desa) Toro semakin turun, menambah nikmat santap malam. Desa di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah—sekitar 90 kilometer dari Palu—itu memang berudara sejuk; terletak 700 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi pegunungan.

Ikan mas yang disajikan baru dua jam sebelumnya ditangkap dari tambak milik Rukmini. Rasanya segar dan gurih. Nasi yang dihidangkan juga legit dan wangi. Pemiliknya menjamin nasi dan ikan itu tidak mengandung bahan kimia karena sawah yang ada di sekitar tambaknya bebas dari pupuk kimia dan pestisida.

Walau tidak menggunakan pupuk kimia, toi (orang) Toro yang mayoritas bekerja sebagai petani yakin sawah mereka tetap subur. Mereka percaya air dari gunung yang masih ditumbuhi hutan perawan sudah berfungsi sebagai pupuk karena mengandung semua unsur hara yang dibutuhkan tanah. Air seperti itulah yang selama ini mengairi sawah-sawah toi Toro.

Keyakinan di atas mendorong komunitas Toro untuk selalu menjaga kelestarian alamnya. Penebangan hutan di puncak gunung dan sumber-sumber mata air dilarang keras. Siapa yang melanggar akan dikenai sanksi adat yang cukup berat.

"Kalau hutan hancur, malapetakalah yang akan kita hadapi. Merusak hutan sama dengan menghilangkan kehidupan," kata Rizal Mahfud (38), suami Rukmini.

Untuk mengusir hama, warga Toro juga menghindari pemakaian pestisida. Jika hama datang menyerang, belalang misalnya, petani Toro akan membakar duo (sejenis ikan teri kecil) dan kulit buah langsat yang sudah kering. Pembakaran di atas bara api itu dilakukan sambil memanjatkan doa. Asap dan aroma dari pembakaran itu dipastikan membuat belalang serta hama lainnya lari dan tidak mau datang lagi.

Sempat tergoda

Rukmini mengakui, sebagian warga Toro sempat tergoda untuk menggunakan pupuk kimia dan pestisida, yaitu pada tahun 1990-an. Saat itu pemerintah bekerja sama dengan sebuah perusahaan pupuk swasta membagi-bagikan pupuk kimia dan pestisida kepada petani.

Karena tidak paham cara menggunakannya, sebagian besar petani Toro menjual pupuk dan pestisida itu kepada pedagang atau petani di desa lain. Namun, ada juga yang menggunakannya, bahkan keterusan sampai saat ini.

Bagi warga Toro lainnya yang mempertahankan pola bercocok tanam leluhur, pembagian pupuk dan pestisida gratis itu dianggap sebagai strategi perusahaan pupuk untuk membuat petani bergantung pada pupuk kimia dan pestisida.

Pada awalnya, kata Rukmini, penggunaan pupuk kimia dan pestisida itu memang bisa meningkatkan hasil pertanian. Namun, bila diteruskan, unsur-unsur hara dalam tanah akan habis dan rusak. Hasilnya akan anjlok, jauh di bawah hasil pertanian yang tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida.

Kepala Ngata Toro, Naftali B Porentjo, menjelaskan bahwa sejak dua tahun lalu pola pertanian organik merupakan salah satu program yang digalakkan di Desa Toro. Tujuannya mengajak petani yang sudah menggunakan pupuk kimia dan pestisida kembali ke pertanian organik. Dengan demikian, lingkungan tetap alami.

Program itu tergolong berhasil karena sekitar 20 persen petani Toro yang sebelumnya terbiasa menggunakan pupuk kimia kini mulai beralih ke pertanian organik. Organisasi Perempuan Adat Ngata Toro yang dipimpin Rukmini juga dipercayai oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) untuk mengembangkan program pertanian organik di tujuh desa lain di sekitar Toro.

Penggunaan kompos

Sekalipun meyakini bahwa air dari pegunungan telah memenuhi semua unsur hara yang dibutuhkan tanah, komunitas Toro tidak menampik adanya cara- cara baru meningkatkan hasil pertanian. Yang penting, cara- cara itu tidak merusak alam.

Sejak program pertanian organik digalakkan, komunitas Toro mulai mengadopsi dua cara peningkatan hasil atau intensivikasi pertanian. Pertama, penggunaan pupuk kompos. Kedua dengan mengubah proses atau pola tanam.

Pupuk kompos ini digemari petani Toro karena semua bahannya sudah tersedia di sekitar mereka dan mudah membuatnya. Bahannya berasal dari daun-daunan, jerami, kulit padi, kulit kakao, dan kotoran sapi. Semua bahan dipotong kecil-kecil, kemudian dicampur dengan mikroorganisme lokal (MOL) yang berfungsi mempercepat proses pembusukan. MOL ini dibuat dari campuran pepaya, pisang, labu, gula pasir, dan tuak enau. Setelah semua bahan dicampur dengan MOL selama 14 hari, pupuk kompos sudah siap digunakan.

Sebelum menanam bibit padi, petani Toro biasanya menggenangi sawah dengan air selama lima hari. Saat itulah kompos ditebarkan ke seluruh lahan. Lima hari kemudian lahan dikeringkan dan penanaman bibit dimulai.

Jika sebelumnya petani Toro menanam 5-10 batang padi dalam satu lubang, maka cara baru yang mereka lakukan adalah hanya menanam satu batang padi dalam satu lubang. Jarak antara lubang yang satu dan lainnya sekitar 5 sentimeter. Di situlah letak perubahan pola tanam yang diadopsi komunitas Toro dari pakar-pakar pertanian organik.

Hasilnya lebih baik

Empat bulan kemudian, bibit padi itu sudah siap untuk dipanen. Jangka waktu panen itu sama dengan padi yang menggunakan pupuk kimia. Namun, hasilnya jauh berbeda.

Menurut Rukmini, hasil panen satu hektar lahan yang menggunakan pupuk kimia biasanya tidak lebih dari 2,5 ton gabah. Sementara hasil panen pada satu hektar lahan yang menggunakan kompos dan pola tanam model baru itu bisa tiga hingga empat kali lipat lebih banyak, yakni mencapai 7-10 ton gabah.

Naftali menambahkan, ada banyak keuntungan lain yang diperoleh petani bila tidak menggunakan pupuk kimia. Pertama, petani dapat memangkas biaya karena tidak bergantung pada pupuk kimia dan pestisida yang akhir-akhir ini harganya terus melambung.

Kedua, petani dipastikan lebih sehat karena tidak terkontaminasi dengan zat-zat berbahaya. Hal itu juga berlaku bagi mereka yang mengonsumsi hasil pertanian organik. "Bagi perempuan, zat kimia itu bisa merusak reproduksi," tambah Rukmini.

Ketiga, gabah lebih tahan lama disimpan, bisa sampai dua tahun. Sebaliknya, gabah yang sudah terkontaminasi bahan kimia hanya bisa disimpan selama enam bulan. "Itu pun sudah ada yang hancur dan berbau tak sedap," kata Rukmini.

Keuntungan keempat, harga jual beras hasil pertanian organik lebih tinggi, mencapai Rp 5.000 per kilogram. Sementara beras jenis yang sama, namun menggunakan pupuk kimia dan pestisida, hanya dihargai Rp 4.000 per kilogram.

Bahkan, kata Naftali, tidak jarang justru para pembeli yang menawarkan harga lebih tinggi untuk beras organik. Pembeli-pembeli itu pula yang langsung datang ke Toro, sehingga petani tidak perlu capek-capek menjual beras organiknya ke pasar atau tengkulak.

"Pertanian tradisional berkelanjutan dan ramah lingkungan itu memang terbukti lebih menyejahterakan," kata Naftali, yang sudah 12 tahun menjadi Kepala Ngata Toro.

Melihat pola pertanian di Toro, kita pun semakin yakin bahwa alam memang telah menyediakan segalanya bagi manusia. Persoalannya, bagaimana kita tetap menjaga alam agar tetap tersenyum sepanjang masa....