Welcome Guest | Daftar | Login

Pertanian Organik, Hak Generasi Mendatang

Oleh: Rakhmat H (Staf Peduli Indonesia - Mojokerto) dan Mahfud, Kelompok Tani Muda Desa Sajen, Pacet- Mojokerto sebagai narasumber

Saat itu hari mulai beranjak siang ketika cak Mahfud masih bergelut dengan kubangan lumpur di sawahnya. Tak jauh dari tempat itu beberapa pemuda desa Sajen lainnya yang tergabung dalam Kelompok Tani Muda (KTM) sedang asyik mengaduk-aduk gundukan kotoran ternak di belakang kandang, selanjutnya menebarkan pupuk kandang itu ke lahan sawahnya. Demikianlah, peristiwa ini hampir setiap kali terjadi saat-saat menjelang musim tanam tiba.

Di saat tanaman mulai tumbuh, kembali pemuda-pemudi desa itu disibukkan dengan berbagai daun-daunan, dan juga bagian tanaman tertentu lainnya. Daun-daun dan juga beberapa bagian tanaman lainnya itu ada yang mereka cacah, ada yang mereka tumbuk, ada yang mereka masak dan ada yang mereka rendam begitu saja. Dan disaat hama mulai menyerang mereka menggunakan air rendaman dedaunan itu sebagai obat-obatan alami untuk mengusirnya. Bau busukpun mulai menyengat. Tapi mereka tetap saja tegar dan sudah terbiasa dengan apa yang dikerjakannya.

Mengapa justru pemuda-pemudi itu yang sangat antusias dengan pekerjaannya, yang menurut sebagian orang dianggap sudah kuno dan ketinggalan jaman..? Mengapa mereka tidak memilih memakai pupuk atau pestisida kimia yang banyak tersedia di toko dan kios-kios pertanian disekitar tempat tinggal mereka, yang menurut banyak orang lebih praktis dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja..?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu kita renungkan. Pertanian organis yang sekarang ini sedang ngetrend memang tak mengenal usia. Baik tua ataupun muda boleh-boleh saja menerapkannya. Tapi kalau kita telaah lebih dalam bahwa salah satu tujuan dari penerapan pertanian organis adalah terwujudnya sistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Maksudnya adalah bagaimana sistem pertanian yang kita terapkan saat ini bisa mendukung kelestarian sektor pertanian di masa yang akan datang. Atau dengan kata lain adalah jangan sampai sistem pertanian yang kita terapkan saat ini hanya mampu memberikan dampak positif pada saat ini saja tetapi mengabaikan tentang dampak / keberlanjutannya di masa depan. Jadi pertanian organis dan juga beberapa nama yang lain misalnya pertanian ekologis, pertanian ramah lingkungan, pertanian selaras alam dsb adalah bagaimana kita mewujudkan pertanian kita ini bisa lebih baik untuk saat ini dan berkelanjutan (tetap baik) sampai di masa mendatang.

Mengapa harus generasi muda..?

Kita meyakini bahwa bumi ini diciptakan bukan untuk satu jaman saja. Ketika sebuah generasi sudah menginjak usia senja maka generasi baru akan muncul untuk menggantinya. Sebuah ungkapan para filosofi juga seringkali mengingatkan kita bahwa "bumi dan alam semesta ini bukanlah warisan dari para leluhur kita melainkan titipan bagi anak cucu (generasi penerus) kita". Maksudnya adalah bahwa generasi muda dan juga generasi penerus kita nantinya juga memiliki hak untuk merasakan tanah yang subur, udara yang segar, air yang jernih tanpa adanya kontaminasi bahan-bahan racun ataupun residu-residu kimia. Kalau sistem pertanian yang kita terapkan saat ini adalah sistem pertanian konvensional yang mengandalkan pemakaian bahan-bahan kimia dan input dari luar yang begitu tinggi, maka itu sama saja kita telah merampas hak-hak anak cucu kita (generasi penerus pertanian). Karena kalau tanah sudah memeliki ketergantungan yang begitu tinggi terhadap pupuk kimia, demikian pula hama dan penyakit sudah mulai kebal dengan pestisida, air sawah dan air minum sudah mulai tercemar, udara sudah penuh dengan polusi, maka semua hak-hak generasi muda di masa mendatang tidak akan terpenuhi. Mereka tidak lagi bisa mendapatkan hak mengelola sawah yang subur, hak untuk mendapatkan air yang bersih, hak akan udara yang segar dsb. Dan yang harus kita ingat bahwa Hak Mereka Di Masa Mendatang Adalah Kewajiban Kita Saat Ini.

Itulah sebabnya mengapa cak Mahfud dan kawan-kawan pemuda sangat getol untuk mulai merintis dan mengenalkan sistem pertanian organik kepada masyarakat tani lainnya. Masih jelas terlintas di ingatan Cak Put (panggilan Cak Mahfud) sebuah lagu Koes Ploes yang sempat hits di masa kecilnya dulu : "......orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman..." . Lagu itu menunjukkan bahwa betapa subur tanah kita waktu itu yang dikenal dengan pepatah jawa : gemah ripah loh jinawi. Namun apa yang bisa kita rasakan saat ini..?

"Kalau di waktu aku kecil dulu, Bapak hanya butuh setengah sak urea untuk padi satu petak ini. Tapi sekarang butuh 2 sak urea. Belum lagi pupuk-pupuk lain yang semakin tahun kebutuhannya juga semakin bertambah. Wah... kalau terus-menerus begini caranya, aku nggak bisa mbayangkan berapa sak yang dibutuhkan anak cucuku nanti. Bisa 5 sak, 10 sak atau bahkan lebih. Kalau begitu terus, mau makan apa anak cucu kita nanti, apa mau makan mes ( urea) ?" begitulah keluhan Cak Put.

Kondisi yang ada diperburuk dengan pola-pola pertanian yang semakin mencekik leher. Yang lebih parah lagi mereka mengatas namakan modern, namun realitanya petani semakin terbelenggu dengan ongkos-ongkos produksi. Petani selalu di-ceko'i (disuruh menelan dengan paksa) program-program yang mereka sama sekali tidak terlibat dalam perencanaannya. Petani selama ini lebih sebagai obyek dari sebuah program yang menguntungkan pihak tertentu saja. Misalnya petani dikenalkan dan diberi pinjaman modal tapi harus dalam bentuk saprodi (benih, pupuk, pestisida) dengan merek tertentu. Petani hanya diberi penjelasan tentang kelebihan dan bagaimana cara aplikasinya tetapi petani tidak pernah diberi tahu bagaimana cara membuatnya sendiri atau dampak-dampak negatifnya jika saprodi itu digunakan. Jadi program ataupun proyek yang selama ini sering kita jumpai di tingkat petani sebenarnya adalah lebih ke proyek dagang saja. Ketika petani sudah mulai ketagihan (ketergantungan) maka tanpa disadari harga pun sudah membumbung tinggi.

Hal yang sama juga sering kita jumpai di kasus-kasus perbenihan. Benih-benih lokal yang dulu selalu tersedia dan dapat dilestarikan secara turun temurun kini sudah mulai langka. Bahkan untuk beberapa varietas tertentu kini sudah tidak bisa kita jumpai lagi. Petani sekali lagi selalu di ceko’i dengan benih-benih baru jenis hibrida dan rekayasa genetik dari perusahaan-perusahaan tertentu yang hanya bisa sekali tanam atau dengan kata lain petani harus selalu membeli jika ingin menanam komoditas tersebut. Ketika benih lokal sudah hilang dan petani sudah mulai ketagihan (ketergantungan) dengan benih tersebut maka sekali lagi hargapun sudah melambung tinggi. Dan sekali lagi ternyata kita telah merampas hak-hak generasi muda dan juga anak cucu kita nanti. Sebenarnya mereka juga punya hak akan varietas-varietas tanaman lokal yang punya ciri khas dan keistimewaan-keistimewaan tertentu sesuai kondisi daerah setempat dan mungkin pula dengan rasa yang lebih enak. Namun semua itu kini hanya tinggallah kenangan.
Ya.. memang itulah kondisinya sekarang. Banyak petani yang belum sadar akan dampak negatif pemakaian pupuk dan pestisida kimia. Dan ironisnya pula, dengan kondisi petani yang belum begitu sadar tersebut seringkali malah dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab (pengusaha/pabrik, pemodal dan bahkan petugas pemerintah) untuk mengambil kesempatan dan mengeruk keuntungan pribadi dari proyek / bisnis nya.
"Bohong kalau ada perusahaan yang sosialisasi atau bahkan sambil bagi-bagi produknya (pupuk, pestisida atau benih) secara gratis kemudian ngomong mau membantu petani, memberdayakan petani dsb. Yang jelas dan yang pasti, yang ada di pikiran mereka adalah bagaimana mencari untung yang sebesar-besarnya," demikian gerutu Cak Put.

Belum lagi dampak ketergantungan dan besarnya biaya produksi yang dikeluarkan petani. Sebagian dari kita tidak pernah berfikir jauh ke depan. Sebagian dari kita juga tidak memikirkan hak anak cucu kita di masa depan. Kalau kita tetap seperti ini dan tidak mau melakukan perubahan itu berarti kita telah merampas hak generasi di masa depan.

Itulah sebenarnya yang selama ini dilakukan oleh teman-teman di KTM. Mereka selama ini berusaha meninggalkan sedikit-demi sedikit pemakaian pupuk dan pestisida kimia dan menggantinya dengan pemakaian pupuk dan pestisida dari bahan-bahan alami dengan memanfaatkan potensi lokal. Memang apa yang mereka lakukan selama ini tidaklah semudah yang kita bayangkan. Banyak sekali kendala yang harus mereka hadapi. Pertanian organik yang lagi ngetrend dan rayuan pasar yang menawarkan harga tinggi untuk produk organik bukanlah menjadi tujuan utama mereka. Tapi ini lah bentuk perjuangan mereka yang salah satunya adalah perjuangan menuntut hak sebagai generasi muda dan tentunya juga sebagai bentuk tanggungjawab mereka untuk memperjuangkan hak anak cucu mereka di masa yang akan datang.

"Inilah bentuk perjuangan kami. Kami tidak bisa bergantung pada para orang tua kami apalagi kepada orang lain. Memang terasa sangat sulit. Tapi Kami harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Kalau tidak kami mulai dari sekarang, lalu kapan lagi ?" demikianlah ungkap cak Mahfud menjelaskan apa yang selama ini menjadi cita-citanya.
Wassalam...