Welcome Guest | Daftar | Login

Kaki Telanjang Vs Tanduk Kambing

Oleh: St Sularto
Sumber: fairtrade-link.org  

PETANI kaki telanjang, kembali kepada alam, pertanian organik. Paling tidak itu tiga sebutan usaha mengolah tanah yang kurang lebih punya ciri-ciri yang mirip. Yakni: simbol kesatuan petani dengan tanah, ajakan menyelamatkan kerusakan alam dan hilangnya kesuburan tanah, ajakan mengolah tanah tanpa pestisida, pupuk kimia dan zat penyubur tanaman.

Oleh imbas gerakan reformasi (politik), ajakan itu semakin menggebu dikemukakan. Era kemarin, orde dengan pemerintahan berciri khas penyeragaman dan pemaksaan kehendak dari atas, mengakibatkan petani tidak memiliki dunianya sendiri. Mereka harus menanam jenis tanaman sesuai dengan keinginan pemerintah, bercocok tanam dengan cara-cara yang diinstruksikan pemerintah. Para petani yang tidak taat dikucilkan dengan sebutan, mbalelo, PKI-sebuah cap vonis habis selesai-karena dianggap menghambat pembangunan.

Karena itu, tidak jarang perlakuan sewenang-wenang sering terjadi. Tanaman padi yang sudah siap dipanen, dibakar karena jenis yang ditanam tidak masuk dalam daftar bibit unggul yang ditetapkan pemerintah.

Padahal, dalam hal memilih jenis tanaman sesuai dengan jenis tanah, dalam hal mengolah tanah sehingga menghasilkan, yang paling tahu adalah petani. Mereka yang paling tahu apa yang mereka butuhkan. Pemakaian pestisida memang memacu hasil produksi, tetapi sekaligus menghancurkan kesuburan tanah selain dampak buruk lain seperti ketergantungan petani pada pemerintah, atau faktor kesehatan dengan adanya residu bahan kimia dalam tanaman konsumsi.

Lantas apakah arti reformasi bagi petani? Berani mengusahakan tanah sesuai dengan cara dan keinginan mereka. Mereka dibiarkan mengendalikan harga dan tidak tergantung dari fluktuasi pasar. Mereka yang menentukan harga, juga dalam hal bibit yang dipilih. Petani menjadi mandiri, dalam arti mampu mengorganisir diri. Mereka menjadi organik, justru karena kemampuannya merepresentasikan diri.

Pertanian organik pun lantas sebagai pilihan, bukan sekadar teknik, beralih dari mengolah tanah yang bersemangat mengeksploitasi tanah sehabis-habisnya kepada cara mengolah tanah sekalian demi kelestariannya. Pertanian organik bukan sekadar alternatif dari sikap rakus mengolah tanah, melainkan cara hidup. Bukan juga antitese dari keinginan memperoleh hasil produksi sebanyak-banyaknya yang disemangati revolusi hijau.

Revolusi hijau memang sudah divonis sebagai malapetaka. Revolusi hijau telah terbukti sebagai tanduk kambing sekaligus kotak Pandora. Dua simbol dalam mitologi Yunani itu, cornucopia (tanduk kambing) yang mencerminkan melimpahnya pangan dan kotak Pandora yang menyimpan petaka, dipakai oleh seorang penulis ahli ekonomi pertanian AS, Wharton Jr, mengkritik revolusi hijau.

Dikutip seorang panelis, artikel yang terbit tahun 1969 itu, di tengah sorak-sorai puja-puji keberhasilan revolusi hijau, mengingatkan timbulnya generasi kedua dari isi kotak Pandora. Generasi pertama sudah muncul, yakni kegembiraan orang oleh melimpahnya pangan. Generasi kedua itu di antaranya berupa ledakan hama dan pemasaran hasil produksi yang berlimpah.

Apa yang diramal Wharton sudah mulai terbukti sejak tahun 70-an. Misalnya, dalam kasus ledakan hama pada tahun 1974-75, Indonesia mengalami serangan hama wereng coklat yang merusak puluhan ribu hektar tanaman padi. Bombardir pemakaian pestisida dan pupuk kimia, menghilangkan kebiasaan petani atau disebut sebagai kearifan lokal, hilang. Pemuliaan tanaman besar-besaran menghasilkan bibit unggul yang memang diarah produksi berumur pendek, sebenarnya rentan hama. Tak lagi masuk dalam pertimbangan, aspek kelestarian kesuburan tanah.


PETANI kaki telanjang atau usaha pertanian organik hanya salah satu alternatif. Sebagai alternatif, apalagi masih sebagai gerakan, di mana pun tak ada yang besar, belum massal. Menurut pengakuan mereka yang sudah mempraktikkannya, pertanian organik itu usaha mengolah tanah mengandalkan pada pemakaian pupuk kandang, pupuk kompos dan pestisida alami.

Sementara mengusahakan agroindustri menuntut pemakaian pupuk kimia dalam jumlah besar dan bermacam-macam, harus dalam monokultur dan perhatian rutin. Sebaliknya, dengan jumlah media sawah yang sama, dengan pertanian organik, hasilnya lebih besar, lebih sehat dan tetap memperhatikan kelestarian tanah.

Dari pengalaman bertani pula, mereka diyakinkan tak mungkin usaha pertanian organik dilakukan seratus persen. Perlu perpaduan antara pemakaian pupuk kimia dan pupuk kompos, antara pupuk pabrik-anorganik dan pupuk organik. Dari segi ilmu tanah pun, pupuk kimia bermanfaat, sehingga yang terpenting adalah bagaimana agar diusahakan semakin kecil pemakaian pupuk dan insekstisida kimiawi. Mesti ada label perbandingan, dan karena itu pula pertanian organik pada saat sekarang adalah gerakan.

Analogi dengan organ dalam tubuh manusia, setiap anggota diarahkan pada kepentingan dan kesejahteraan seluruh badan. Organisme itu hanya bisa sehat dan kuat kalau setiap organnya melaksanakan kewajiban. Begitu juga setiap organ hanya bisa berfungsi baik kalau seluruh organisme menjaga dan memeliharanya. Setiap badan terorganisasi secara sempurna. Tak mungkin badan mau mengembangkan kepalanya saja agar pandai berpikir, atau hanya tangannya agar pandai mencuri, atau kakinya supaya mampu cepat lari.

Sikap yang muncul dari kesadaran seperti itu adalah perhatian, tenggang rasa, hormat terhadap semua yang ada. Petani organis melihat bahwa alam sendiri bersifat seperti itu. Tuhan telah mengaturnya, sehingga setiap makhluk bermanfaat bagi makhluk lain.

Penjelasan itu boleh dikatakan sebagai 'teologi pertanian organis', menyadarkan bahwa mengusahakan pertanian organik dalam kaitan posisinya sebagai kegiatan makhluk ciptaan. Dan rasanya itu pula yang seharusnya menjadi dasar rasionalisasi dan penguatan mereka yang berkecimpung dalam kegiatan pertanian organik. Bahwa organis tak hanya sekadar meninggalkan cara

AKAN tetapi, gugatan belum selesai, dalam kaitan percepatan pasar bebas ASEAN tahun 2001, tetaplah pertanian dengan organik sekalipun jadi pertimbangan. Di sini soal idealitas dan realitas dalam mengusahakan pertanian organik. Dan rasanya diskusi tidak beranjak dari sana, bahwa pertanian organik pun dari dirinya sendiri mesti melakukan otokritik, sebab agrobisnis bisa memenuhi syarat untuk mampu bersaing, terutama dengan harga murah dan tersedia jumlah besar. Sementara pertanian organik masih menuntut harga tinggi, seperti penghargan pada karya manusia dan sikap meninggalkan mereka yang tak mau mengerti usaha pertanian organik.

Sikap kemandirian sebagai bangsa amat dibantu oleh hadir dan berkembangnya gerakan pertanian organik. Itu pula yang selayaknya didukung, apalagi sistem ini sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Jalan mengembangkan masih jauh, dan diharapkan menjadi alternatif pertanian efisien dan kompetitif pada pasar internasional, selain juga ramah lingkungan.

Dalam hal ini, didukung usaha riset dan pengembangan-yang boleh dikatakan secara serius sebetulnya sudah ditangani lembaga swadaya masyarakat semacam Yayasan Bina Sarana Bakti di Cisarua, ataupun di berbagai tempat lain, termasuk mereka yang mengembangkannya secara serentak dalam melihat peternakan sebagai partner in progress pertanian organik- jalan yang ditempuh petani berkaki telanjang-organik memang masih panjang, sudah kalah duluan dengan tanduk kambing. Akan tetapi, ketika semua soal, semua penyakit, semua persoalan yang sifatnya federatif muncul pada era reformasi, era sekarang adalah kondusif. Sebaliknya juga, dari segi lain, ketika perekonomian kita semakin terpuruk, proses menjadi bangsa yang mandiri kelihatannya akan semakin panjang.