Apakah Pertanian Organis Layak secara Ekonomi?
Oleh: Agung Prawoto.
Bicara keberlanjutan dalam pertanian organis, tidak dapat dipisahkan dengan dimensi ekonomi, selain dimensi lingkungan dan dimensi sosial. Pertanian organis tidak sebatas hanya meniadakan penggunaan asupan eksternal sintetis, tetapi juga pemanfaatan sumber-sumber alam secara berkelanjutan, produksi makanan sehat dan menghemat energi. Aspek ekonomi dapat berkelanjutan bila produksi pertaniannya mampu mencukupi kebutuhan dan memberikan pendapatan yang cukup untuk melaksanaan keberlanjutan penghidupan. Tetapi, kerapkali motivasi ekonomi menjadi kemudi yang menyetir arah pengembangan pertanian organis. Di satu sisi dapat mendorong pengembangan pertanian organis di Indonesia, tetapi di sisi lainnya dapat menjadi bumerang yang dapat meruntuhkan pondasi gerakan pertanian organis yang sedang dibangun.
Ekonomi Lahan
Budidaya pertanian organis mengintikan pada keselarasan alam, melalui keragaman hayati dan pengoptimalan penggunaan asupan alami yang berada di sekitar melalui proses daur ulang bahan-bahan alami. Dalam proses budidayanya, dari persiapan lahan hingga pemanenan tidak dapat dilepaskan dengan interaksi kedua hal tersebut.
Pertanian organis yang berasal dari lahan konvensional (lahan yang intensif penggunaan asupan kimia sintetis) perlu masa peralihan. Peralihan dari pertanian yang dikelola secara konvensional ke pertanian organis seharusnya tidak hanya memperbaiki ekosistem lahan, namun juga menjamin kelangsungan hidup (secara ekonomi) lahan tersebut. Karena itu, penyesuaian, kesempatan dan resiko yang dituntut untuk peralihan itu saling berkaitan dan harus diperhatikan.
Peralihan ke pertanian organis memerlukan pola pikir yang baru pula. Seluruh anggota keluarga yang terlibat dalam pengelolaan lahan harus siap dalam melakukan perubahan-perubahan dalam banyak aspek. Yang pertama dan terpenting adalah cara pandang petani itu sendiri terhadap pertanian organis.
Potensi ekonomi lahan pertanian dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berperan dalam perubahan biaya dan pendapatan ekonomi lahan. Setiap lahan memiliki potensi ekonomi bervariasi (kondisi produksi dan pemasaran), karena lahan pertanian memiliki karakteristik berbeda yang disesuaikan dengan kondisi lahan tersebut. Maka faktor-faktornya bervariasi dari satu lahan ke lahan yang lain dan dari satu negara ke negara yang lain. Secara umum, semakin banyak perubahan dan adopsi yang diperlukan dalam lahan pertanian, semakin tinggi pula resiko ekonomi yang ditanggung untuk perubahan-perubahan tersebut.
Kemampuan ekonomi suatu lahan dapat diukur dari keuntungan yang didapat oleh petani dalam bentuk pendapatannya. Keuntungan ini bergantung pada kondisi-kondisi produksi dan pemasaran. Keuntungan merupakan selisih antara biaya (costs) dan hasil (returns). Modal tetap atau fixed costs (yang tidak secara langsung bergantung pada ukuran produksi) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli atau menyewa tanah, bangunan atau mesin-mesin; atau bisa juga biaya yang disediakan untuk menggaji pekerja-pekerja tetap. Upah bagi buruh tani (termasuk bila menggunakan tenaga kerja keluarga) yang bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan khusus (misalnya pada waktu panen) tergantung pada ukuran produksi. Ini disebut sebagai modal tidak tetap (variable costs), termasuk biaya yang dikeluarkan untuk membeli asupan (misalnya benih, manur, pestisida). Sebuah lahan bisa dikatakan layak secara ekonomi jika hasil yang didapat melampaui total modal tidak tetap dan penurunan nilai modal tetap. Hasil utamanya berupa uang yang diterima dari penjualan produk yang dihasilkan. Untuk memperhitungkan keuntungan lahan keluarga dan kegiatan-kegiatan lahan, penghematan pengeluaran untuk makan dan pendapatan yang diperoleh dari luar lahan (misalnya sebagai buruh upahan atau dari kegiatan usaha yang lain) harus turut diperhitungkan.
Pada masa peralihan ini perlu dilihat, apakah biaya produksi dan hasil panenan akan meningkat atau menurun?. Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya-biaya selama dan setelah peralihan tidak selalu sama dan bergantung pada jenis pertaniannya, apakah bertani tradional atau intensif?, dan jenis produksinya -(tanaman apa yang utama?. Apakah juga memelihara hewan ternak?)- serta kondisi lingkungan dan sosial-ekonomi.
Karena itu, penyamarataan biaya produksi tidak mungkin dilakukan. Dalam kasus-kasus yang sering dijumpai di lahan, biaya asupan awal mengalami kenaikan karena petani harus membeli manur organis untuk membangun materi organis tanah. Selain itu, diperhitungkan pula biaya untuk menggaji pekerja -mengangkut manur, membersihkan semak, dll- yang menjadi rangkaian pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan sistem pertanian organisnya. Ini dapat menaikkan biaya produksi secara keseluruhan. Sementara hasil produksinya dapat menurun sekitar 10-50 persen dari hasil pertanian konvensional, tergantung dari tanaman dan sistem pertaniannya.
Penurunan hasil panen bisa terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu, terutama jika kesuburan tanah amat rendah akibat kekurangan materi organis tanah. Hal ini dapat mengecewakan petani yang berharap mengalami peningkatan hasil dari sistem organis. Jika demikian situasinya, perlu dinilai secara individu di setiap daerah dan di setiap lahan. Untuk menghindari kekecewaan yang berlebihan, petani yang tertarik untuk beralih ke pertanian organis harus diingatkan untuk bersiap-siap menghadapi penurunan hasil pada tahun-tahun awal dan tidak perlu khawatir karena setelah tiga hingga lima tahun hasil panen akan naik dan memuaskan. Tampaknya perbaikan hasil panen dapat menjadi lebih tinggi pada daerah yang memiliki iklim lembab dengan tanah yang mengandung banyak materi organisnya.
Berdasarkan studi literatur dan bukti empirik di lapangan, setelah masa peralihan dilalui, hasil panen pertanian organis mengalami peningkatan seperti jumlah semula bahkan dapat melebihi. Jadi, pada waktu proses peralihan dari pertanian konvensional ke organis selesai, hasil panen yang didapat sangat positif karena tidak mengalami penurunan.
Selain itu, setelah masa peralihan usai, tanah lahan telah ‘pulih’ dan keanekaragaman hayati di lahan telah mengalami keseimbangan, memberikan kontribusi bagi penurunan biaya produksi seperti biaya sebelum perubahan atau mungkin lebih rendah, mengingat saat itu lahan tidak membutuhkan asupan kimia pertanian (agro kimia) yang sangat mahal harganya karena cukup memanfaatkan sumber-sumber yang ada di lahan itu sendiri.
Hasil/keuntungan tidak hanya bergantung pada jumlah panen tetapi juga harga yang diberikan oleh pasar. Meskipun demikian, pada umumnya petani berharap mendapat harga premium untuk produk-produk organis mereka setelah lahan mereka organis. Tetapi, bilapun harga premium tidak terpenuhi, sebenarnya petani organis untung karena biaya produksi organis lebih rendah dibandingkan non organis. Permasalahannya adalah kapan jerih payah petani dihargai lebih dari sekedar angka-angka dalam biaya produksi?
Analisa Usaha Budidaya Organis dan Konvensional
Berikut ini disajikan perbandingan analisis usaha budidaya organis dan konvensional, terutama untuk padi. Analisis dibuat untuk luasan lahan satu hektar, nilai atau harga yang digunakan berlaku untuk daerah Delanggu Klaten Jawa Tengah pada awal tahun 2002.
Tabel 1: Biaya operasional pembudidayaan padi secara organis dan non organis.
|
Biaya budidaya (Rp) |
|
Organis |
Non-Organis |
|
1 |
Benih 30 Kg |
150.000 |
150.000 |
|
2 |
Pupuk dasar |
|
|
|
|
- Pupuk kandang/kompos 5 ton |
750.000 |
- |
|
|
Pupuk susulan |
|
|
|
|
- Urea 500 kg |
- |
600.000 |
|
|
- KCl 250 kg |
- |
432.500 |
|
|
- TSP 250 Kg |
- |
500.000 |
|
|
- Pupuk Kandang/kompos 200 kg |
150.000 |
- |
|
|
- Pupuk organis cair |
50.000 |
- |
|
3 |
Pestisida |
|
|
|
|
- Pestisida organis |
50.000 |
- |
|
|
- Pestisida kimia |
- |
750.000 |
|
4 |
Tenaga Kerja |
|
|
|
|
- Pengolahan lahan (borongan) |
250.000 |
250.000 |
|
|
- Penanaman (borongan) |
250.000 |
250.000 |
|
|
- Penyulaman 5 HKP |
50.000 |
50.000 |
|
|
- Pengolahan tanah ringan 10 HKP |
100.000 |
100.000 |
|
|
- Penyiangan 25 HKP |
250.000 |
250.000 |
|
|
- Pemupukan |
20.000 |
40.000 |
|
|
- Penyemprotan 10 HKP |
100.000 |
100.000 |
|
|
- Pemanenan (borongan) |
775.000 |
775.000 |
|
|
- Pascapanen (perontokan) 18 HKP |
180.000 |
180.000 |
|
|
- penggilingan gabah (ongkos miller) |
250.000 |
250.000 |
|
|
Jumlah |
3.375.000 |
4.677.500 |
(Sumber: Andoko, Agus. Budidaya Padi Secara Organik, Penebar Swadaya, 2002. Hal 87).
Terlihat bahwa, biaya operasional budidaya padi dari penyediaan benih hingga penanaman padi organis dan konvensional tidak terlalu berbeda. Perbedaan tampak pada penggunaan asupan-asupan eksternal bagi perawatan tanaman.
Pada pertanian organis, pemupukan dilakukan dua kali, pada awal olah tanam sebagai pupuk dasar dan pupuk susulan. Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pupuk tersebut sebesar Rp. 950.000,- atau sebesar 28 persen dari total biaya produksi. Sementara pada budidaya konvensional, dapat menghabiskan Rp. 1.532.500,- atau sebesar 33 persen dari total biaya produksi. Terdapat selisih Rp. 582.500,- yang dapat dihemat dalam budidaya organis untuk pemupukan.
Untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman, budidaya organis menghabiskan hanya Rp. 50.000,- atau sebesar 1,5 persen dari total biaya produksi, sementara budidaya konvensional menghabiskan Rp. 750.000,- atau sebesar 16 persen dari total biaya produksi. Terjadi penghematan sebesar Rp. 700.000,- bagi petani yang berbudidaya organis.
Secara keseluruhan biaya operasional budidaya padi organis per hektar adalah Rp. 3.375.000,-, sedangkan konvensional adalah Rp. 4.677.500,-. Ini nampak adanya penghematan sebesar Rp. 1.322.500,- atau sebesar 28 persen untuk budidaya organis.
Dengan asumsi tidak terjadi puso dan lahan organis telah berlangsung lebih dari 2 tahun, setiap hektar sawah akan mampu menghasilkan gabah kering giling (GKG) 7,5 ton. Setelah digiling, beras yang dihasilkan sebanyak 4,5 ton per hektar. Bila harga beras organis dan konvensional dihargai sama yaitu Rp. 3.600,- per kilo gram, maka petani akan mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 16.200.000,-. Dengan demikian, keuntungan petani organis sebesar Rp. 12.825.000,- dan petani konvensional sebesar Rp. 11.522.500,-. Artinya, dilihat dari sudut asupan pertanian saja dengan cara membandingkan hasil pendapatan, budidaya pertanian organis lebih menguntungkan 10 persen dibandingkan dengan pertanian konvensional
Faktanya, dengan mengacu pada harga saat ini yaitu harga beras organis Rp. 3.600 – Rp. 5.000,- per kilogram tergantung varietasnya, maka pendapatan petani organis sebesar Rp. 16.200.000,- Rp. 22.500.000,- sehingga keuntungan yang diperoleh petani organis sebesar Rp. 12.825.000,- hingga Rp. 19.125.000,-. Sementara harga beras konvensional Rp. 2.000,- per kilogram, maka pendapatan petani non organis sebesar Rp. 9.000.000,- sehingga keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 4.322.500,-. Dari sini terlihat nyata bahwa berbudidaya organis lebih menguntungkan.
Dalam data di atas, penulis tidak memasukan biaya sewa lahan karena biaya tersebut dapat dianggap sama antara lahan organis dan non organis.
Ditinjau dari kelayakan usaha, secara finansial dapat dilihat dari BEP (break event point), radio B/C (benefit cost), dan ROI (return of investment) dengan asumsi menggunakan harga beras organis dan non organis saat ini.
Beras Organis
a. BEP
Suatu usaha budidaya dikatakan berada pada titik impas atau balik modal berarti bahwa besarnya hasil sama dengan modal yang dikeluarkan. Perhitungan BEP ada dua, yaitu BEP volume produksi dan BEP harga produksi.
BEP Volume produksi = Biaya produksi = Rp. 3.375.000,- = Rp. 937,5 Kg
Harga produksi Rp. 3.600,-
Artinya, titik balik modal usaha budidaya organis dapat tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 937,5 kilogram untuk sekali panen.
BEP harga produksi = Biaya operasional = Rp. 3.375.000,- = Rp. 750,-/Kg
Jumlah produksi 4.500,- kg
Artinya, titik balik modal tercapai bila harga beras organis yang diperoleh dijual dengan harga Rp. 750,- per kilogram.
Rasio B/C
Rasio B/C merupakan ukuran perbandingan antara hasil penjualan dengan biaya operasional. Dengan rasio B/C akan diperoleh ukuran kelayakan usaha. Bila nilai yang diperoleh lebih dari satu maka usaha dapat dikatakan layak untuk dilaksanakan. Namun bila kurang dari satu maka usaha tersebut dikatakan tidak layak.
Rasio B/C = Hasil Penjualan = Rp. 16.600.000,- = 4,91
Biaya Operasional Rp. 3.375.000,-
Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 16.600.000,- akan diperoleh hasil penjualan sebesar 4.91 kali lipat sehingga sangat layak untuk diusahakan.
ROI (return of investment)
Analisis ROI merupakan ukuran perbandingan antara keuntungan dengan biaya operasional. Analisis ini digunakan untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal.
ROI = Keuntungan x 100% = Rp. 13.225.000 x 100% = 391.8%
Biaya Operasional Rp. 3.375.000
Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 100,- akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp. 391,8,-, sehingga penggunaan modal untuk usaha ini amat efisien.
Beras konvensional
a. BEP
BEP Volume produksi = Biaya produksi = Rp. 4.677.500,- = Rp. 2.338,75 Kg
Harga produksi Rp. 2.000,-
Artinya, titik balik modal usaha budidaya organis dapat tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 2.338,75 kilogram untuk sekali panen.
BEP harga produksi = Biaya operasional = Rp. 4.677.500,- = Rp. 1.039,-/Kg
Jumlah produksi 4.500,-kg
Artinya, titik balik modal tercapai bila harga beras organis yang diperoleh dijual dengan harga Rp. 1.039,- per kilogram.
Rasio B/C
Rasio B/C = Hasil Penjualan = Rp. 9.000.000,- = 1.92
Biaya Operasional Rp. 4.677.500,-
Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 9.000.000,- akan diperoleh hasil penjualan sebesar 1.91 kali lipat sehingga layak untuk diusahakan.
ROI (return of investment)
ROI = Keuntungan x 100% = Rp. 4.322.500 x 100% = 92.4%
Biaya Operasional Rp. 4.677.500
Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 100,- akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp. 92,4,-, sehingga penggunaan modal untuk usaha ini masih efisien.
Dari hasil analisis finansial terlihat bahwa budidaya organis lebih layak dibandingkan konvensional. ini dapat dilihat dari titik impas volume dan harga produksi beras organis jauh lebih kecil dibanding beras konvensional. Pembiayaan budidaya organis juga lebih rendah dari budidaya konvensional walaupun produksi beras tetap sama.
Berdasarkan rasio B/C, budidaya organis masih lebih besar dibandingkan konvensional, yaitu 4,91 (hampir lima kali) dan 1,91 (hampir dua kali). Sementara untuk perhitungan ROI menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh budidaya organis sebesar 4 kali lipat keuntungan budidaya padi konvensional. Dengan demikian, modal usaha akan lebih cepat kembali pada pembudidayaan padi organis.
Aspek Sosial Dan Lingkungan, Efisiensi Dalam Pertanian Organis
Pertanian organis merupakan strategi pertanian yang ramah lingkungan yang menyandarkan pada keragaman hayati di lahan pertanian. Memelihara alam di lahan dan sekitar lahan menciptakan tempat yang nyaman bagi mahluk hidup.
Karena budidayanya meniru dengan praktek-praktek yang terjadi di alam, pertanian organis berujung pada budidaya yang efisien. Lambat laun, karena keseimbangan ekosistem terjadi sebagai buah terjaganya keragaman hayati mengakibatkan biaya produksi kian menurun. Pertanian organis dimaksudkan menjadi semacam pertanian yang menggunakan asupan luar serendah mungkin.
Dengan memperbesar daur ulang bahan-bahan alami di lahan, menjadi cara yang efektif mengurangi biaya asupan. Misalnya sampah dapur bersama bahan-bahan organis dari lahan dapat dijadikan kompos. Bahan-bahan dari pangkasan pohon dan pagar tanaman dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar, sementara dedaunan dan ranting-ranting dapat dipakai sebagai mulsa atau kompos. Yang terpenting, efisien dari daur ulang nutrisi berupa pengelolaan pupuk hijau. Petani sedapat mungkin mendaur ulang nutrisi yang berasal dari lahan sendiri dan tidak perlu membeli dari luar dengan mencari sumber-sumber pupuk yang tersedia di daerah sekitar ladang, misalnya sampah dari pengolahan hasil pertanian, menanam pangan sendiri misalnya sayur-mayur, makanan pokok, buah-buahan dan tepung-tepungan.
Cara lain untuk mengurangi biaya produksi dengan menerapkan metode tumpang sari/rotasi tanaman sehingga dapat memelihara keragaman species yang dapat mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), menggunakan agen hayati lokal untuk membuat pestisida botani sendiri, memproduksi benih dan semaian sendiri, memelihara ternak (untuk mendapatkan manur, susu, telur, daging, dll), membuat pakan ternak di kebun sendiri, saling pinjam-meminjam peralatan dan mesin-mesin dengan tetangga sesama petani dan membeli peralatan yang dibuat secara lokal daripada membeli yang impor, menggunakan bahan-bahan konstruksi yang tersedia di daerah setempat (misalnya bengkel kompos, kandang ternak, alat-alat dll), bergabung dengan petani lain membentuk usaha simpan pinjam agar terhindar dari jeratan tengkulak dengan bunga yang mencekilk leher.
Selain untuk mengendalikan OPT, metode tumpang sari dari sisi ekonomi dapat menjadi cara untuk menjaga kesinambungan produksi/pemasaran dan menghasilkan keragaman produk pertanian. Artinya, dengan menanam beragam tanaman dalam suatu luasan lahan tertentu, dimana tanaman memiliki usia tanam tertentu dan dalam jumlah tak banyak, akan menghasilkan produk pertanian yang beragam dan diperoleh sepanjang tahun –berdasarkan usia tanam- serta dapat mengontrol harga produk agar tidak jatuh karena petani tetap menjaga ketersediaan produk terus menerus tetapi tidak dalam jumlah yang besar.
Keseimbangan alam dan ekosistemnya secara keseluruhan merupakan aset berharga, yang apabila dikuantifikasikan -(tidak bermaksud mereduksi makna dan peran alam)- berkontribusi untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk produksi pertanian organis.
Untuk tenaga kerja, fakta yang terjadi di lapangan, pertanian organis menggunakan tenaga kerja lebih intensif dibanding pertanian konvensional terutama pada masa peralihan. Hal ini dikarenakan pengoptimalan penggunaan bahan-bahan alami di sekitar yang dikelola berdasarkan interaksi biologi dan ekologi, dimana prosesnya dilakukan sendiri dalam komunitas pertanian tersebut. Artinya bahan baku untuk asupan pertanian diperoleh dalam komunitas dengan cara membeli atau barter antar anggota komunitas. Ini dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan, tetapi memerlukan tenaga kerja yang intensif. Kalaupun biaya dikeluarkan untuk memperoleh asupan-asupan pertanian dan menggunakan tenaga kerja setempat, perputaran uang hanya terjadi pada komunitas tersebut dan secara tidak langsung menguatkan tatanan ekonomi dan sosial masyarakat komunitas.
Meskipun di negara-negara tropis tenaga kerja lebih murah dibandingkan harga asupan kimia, para petani dalam jangka waktu panjang tetap mengeluarkan biaya untuk tenaga kerja, baik yang dilakukan sendiri ataupun pekerja upahan. Biaya tenaga kerja dapat dikurangi, dengan menerapkan metode pencegahan dalam budidayanya. Seperti metode tumpang sari dan rotasi tanaman dapat membantu dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pengurangan pengolahan tanah dengan menggunakan penggunaan jerami dari hasil panen, pemberian manur untuk menumbuhkan dan memperkaya kandungan materi organis tanah. Dengan memelihara alam, akhirnya alamlah yang akan memelihara budidaya kita dan memelihara kita.
Praktek pertanian organis yang dilakukan komunitas memberikan kontribusi bagi pengembangan pembangunan pedesaan. Pertanian organis dan pertanian terpadu mewakilkan kesempatan pada semua tingkatan, mendorong ekonomi pedesaan melalui pembangunan berkelanjutan. Malah kesempatan kerja baru di pertanian menjadi bukti dari pertumbuhan sektor organis.