Pertanian Organik (3-HABIS): Teknologi Lokal, Warisan Leluhur di Lombok
Oleh: Khaerul Anwar
Sumber: KOMPAS, 19 Oktober 2006
Nyaris tidak seorang petani pun bisa lepas dari penggunaan pupuk dan pestisida kimia dalam bercocok tanam. Pemakaian pupuk dan obat kimia kian boros dan merajalela bila terjadi serangan hama dan penyakit terhadap tanaman mereka.
Padahal, dalam banyak kajian, penggunaan bahan anorganik itu menjadikan tanah rusak, miskin unsur hara, dan mutu produksi menurun karena tanah dipaksa berproduksi maksimal. Kajian lain bahkan menyebut, penyakit kanker, misalnya, antara lain disebabkan bahan kimia yang melekat pada komoditas bahan pangan dan sayuran saat proses produksi, kemudian dikonsumsi manusia.
Ketergantungan pada teknologi anorganik itu bertolak belakang dengan cara bertani para petani di masa lalu. Pada era sebelum tahun 1970-an, para petani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, umumnya amat akrab dengan alam dalam aktivitas bercocok tanam.
Untuk memulihkan kondisi tanah setelah digunakan sekali musim tanam, tanah diberi pupuk dengan tanaman gerompong (bahasa lokal)—biasanya ditanam di pematang sawah—ditambah jerami dan kotoran ternak. Bahan alami itu dicampur dan disebar merata di lokasi tanah garapan, sampai kemudian "disatukan" saat tanah dibajak.
"Daun srikaya besar yang dicampur daun tembakau, kemudian direndam selama semalam, bisa dijadikan pestisida untuk menghalau hama wereng," ujar Mulyadi Fajar, petani Dusun Dasan Pae, Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, tentang kearifan lokal nenek moyang mereka.
"Daun tembakau dipakai untuk melepas cengkeraman lintah yang menempel di bagian kaki. Caranya, siram saja pakai air tembakau," ungkap Saparudin, warga Dusun Mapak Dasan, Desa Kuranji, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat.
"Dulu tiap malam ayah kami membakar daun legundi yang ternyata asapnya untuk mengusir nyamuk," kata lelaki lulusan SMP yang memproduksi pestisida alami yang disebutnya Superbio dan kini digunakan petani di kecamatan itu.
Kearifan-kearifan dan "teknologi" lokal itu kini dirajut kembali oleh petani di sejumlah desa di Pulau Lombok. Mereka menggunakan kotoran sapi dan kerbau sebagai pupuk bagi tanah selama setahun, ditambah pupuk organik yang berfungsi sebagai nutrisi bagi tanaman, juga menetralisir pupuk kimia yang masih digunakan meski porsinya relatif kecil.
Menurut Eko SB Harianto dari Yayasan Satia Dharma Mataram, tercatat 30-40 hektar lahan yang diuji coba maupun yang sudah menghasilkan produk komoditas pertanian organik, seperti padi hibrida, padi varietas lokal, kedelai, kacang panjang, dan sayuran lainnya.
Petani Dasan Pae sudah merasakan manfaat bertani dengan sistem akrab alam itu.
Menurut Mulyadi, tercatat 2.750 hektar sawah milik 55 petani di dusun itu pada tahun 2005. Tiap petani memiliki 50 are. Lahan itu—setelah dibajak—diberi pupuk kotoran sapi 1,5 kuintal-2 kuintal per 50 are, kemudian 75 kg pupuk urea dan 1 kg pupuk organik.
Pada musim tanah berikutnya, kotoran ternak dikurangi kebutuhan, dan tidak memakai pupuk kimia. "Saya masih pakai pupuk kimia, tapi porsinya kecil karena waswas saja, jangan-jangan tanaman tidak tumbuh baik," kata Mulyadi.
Hal senada dikatakan Rena Mendurihanti, pendamping kelompok tani Dusun Penangsa, Desa Sengkerang, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah. Tanah juga ibarat manusia yang kecanduan narkoba dan perlu waktu untuk meminimalisasi ketergantungan itu.
Dari hasil uji coba tadi, ucap Mulyadi, terjadi kenaikan produksi padi hibrida (IR 64, Ciherang) dari 3 ton-3,5 ton naik menjadi 4,5 ton per hektar. Jumlah itu dinilai signifikan, mengingat Dusun Pae dan Dusun Penangsa berada di wilayah selatan Pulau Lombok.
Daerah ini dianggap kritis, dengan hari hujan pendek (90 hari setahun) dan tanah sawah merekah akibat dibakar terik matahari.
Kenaikan produksi terlihat pada kedelai yang ditanam setelah panen padi. Dari 100 batang kedelai yang ditanam pada tiap pematang, seluruh batang tanamannya berbuah lebat. Sekali petik saat panenan, nilai jual kedelai petani bisa mencapai Rp 40.000-Rp 50.000 sehari. Berbeda dengan ketika menggunakan pupuk kimia, hanya bagian tengah dan atas batang kedelai yang berbuah, bagian bawahnya hampa buah.
"Dulunya, panen kedelai hanya cukup untuk sayur. Namun setahun terakhir, selain dimakan sendiri, juga bisa dijual," ucap Mulyadi.
Peningkatan hasil terlihat juga dari tanaman kacang panjang yang juga ditanam pada pematang sawah. Sekali panen kacang panjang yang dijual Rp 500-Rp 1.000 per ikat (berisi 10 batang), hasil penjualannya Rp 60.000. Panen kedelai berjalan tiap hari selama 40 hari.
Sedangkan harga beras (IR 64) yang menggunakan pupuk organik dijual Rp 4.500-Rp 5.000 per kg atau lebih tinggi dari harga beras varietas sama yang menggunakan pupuk kimia, Rp 2.900-Rp 3.500.
Dari pantauan Mulyadi dan Rena, terlihat penggunaan kotoran ternak dan pupuk organik membuat tanaman padi tahan pada serangan hama, batangnya kokoh dan tegak, serta kematangan bulir padi lebih sempurna.
Mulyadi dan Rena menunjuk bukti lain, yaitu hasil panenan Maret-April. Produksi padi organik lebih tinggi 1,2 ton dibandingkan dengan produksi musim tanam yang belum organik.
Keberhasilan uji coba itu kini mulai diterapkan petani di sejumlah wilayah subur air dan kurang air di Pulau Lombok, seperti Lombok Barat (Desa Pemenang Barat dan Desa Lingsar), Lombok Tengah (Desa Lantan, Loangmake, Jelantik di samping Dusun Penangsa), serta Lombok Timur (Desa Pengadangan, Wanasaba, Sambelia, dan Sembalun).
Areal sawah yang digunakan untuk pertanian organik itu relatif kecil, rata-rata 20 are-50 are. Itu bisa dimaklumi, kata Nyoman Kantun, peneliti dan dosen Fakultas Pertanian Universitas Mataram, karena petani hati-hati dan masih butuh bukti nyata dari pertanian organik.
Artinya, petani harus disiapkan menerima teknologi pertanian ramah lingkungan ini, apalagi ada kecenderungan petani dewasa ini masih setengah hati menekuni usaha taninya, berbeda dengan leluhur mereka yang memang petani tulen.
Kantun yakin, produk pertanian organik mendapat pasar, asalkan kesinambungan produknya terjaga. Termasuk kesinambungan suplai pupuk organik yang masih didatangkan dari luar Nusa Tenggara Barat. Jangan sampai petani yang sudah merasakan manfaatnya terganjal sarana produksi, yaitu tersendat dan mahalnya suplai pupuk organik.
Guna menghindari ketergantungan itu, diupayakanlah produk pupuk organik oleh para petani dan peneliti lokal. Apalagi bahan baku tersedia melimpah di NTB.
Inisiatif sebagaimana ditunjukkan para petani "kreatif"—sebutlah Saparudin, misalnya— lalu menemukan sendiri formula pestisida alami.
Selain bermanfaat bagi kelangsungan usaha tani, penemuan dan kreativitas seperti itu sebenarnya merupakan kegiatan penemuan ulang teknologi lokal, yaitu tradisi bertani yang pernah dilakukan oleh para leluhur.